Search

Aria T. Kharisma

Not as bitter as coffee. Not as sweet as sugar.

Month

July 2013

Korban Iklan?

Memasuki pertengahan bulan Ramadan, sudah bosankan mata anda melihat iklan televisi yang bolak – balik tayang silih – berganti. Pindah channel pun, yang muncul itu – itu lagi.

Iklan sirup,

iklan sarung,

iklan obat maag,

iklan minuman dalam botol,

dan iklan – iklan yang lainnya.

Satu dari sekian iklan yang rutin muncul tiap tahun adalah milik perusahaan rokok. Tema yang diangkat sama seperti tahun sebelumnya, mengenai ibu. Kali ini lebih personal, tak ada urusan dengan menantu judes seperti tahun yang lalu.

Adalah tiga orang anak, dua laki – laki dan satu perempuan yang sedang berdebat untuk siapa yang bertugas merawat ibunya. Sekilas, ada sosok bapak dalam iklan dimaksud. Iklan dengan durasi 30 detik itu berhenti (bersambung) setelah asisten rumah tangga yang diminta untuk tidak usah pulang (mungkin menjelang mudik lebaran) dan gajinya dibayar 2 kali lipat, menolak permintaan mereka. Alasannya sama, ingin merawat ibunya yang sudah tua juga.

Beberapa teman saya, dengan terang – terangan membenci tingkah laku tiga orang anak dimaksud. Alasannya panjang, mengalir, berbobot tak ubahnya untaian kalimat di buku – buku motivasi. Padahal mereka tahu, iklan itu pasti akan berakhir bahagia dengan ketiga anak tersadarkan untuk merawat ibu mereka. Sweet!

Berharap ending yang berbeda? Melihat realita yang ada, sedih karena (sedikit) banyak yang berakhir di ….. panti jompo.

Sigh!

Selamat berpuasa. Mohon maaf atas segala salah dan lupa

…dan manusia adalah tempatnya salah dan lupa.

-oOo-

Setinggi-tingginya manusia sebagai mahluk Tuhan yang paling sempurna, sekecil apa pun kesalahan pasti pernah diperbuat. Akal sehat, kemampuan berpikir, ditambah dengan daya rasa hati bernama perasaan terkadang kurang mampu untuk membendung niat-niat jahat yang semula berbungkus ‘ke-iseng-an belaka’ atau ‘hanya bercanda’.

Keceriaan yang pernah dilalui bersama, manusia mana yang bisa menerka kalau satu diantara kita ada yang terluka. Meski sama-sama mengeluarkan tawa yang sama, siapa yang menyangka kalau satu diantara kita justru teriris hatinya? Kesedihan yang dibagi bersama, dengan deraian air mata, adakah yang bisa mengira kalau ada satu diantara kita justru tertawa bahagia?

Pernah, tangan ini terulurkan kepadamu. Meringankan beban yang saat itu membatu dipundakmu?

Senyum manis kau sembahkan padaku sembari ucapan terima kasih mengalun pelan dari bibirmu. Puja puji berhambur kepadaku seakan aku adalah malaikat penyelamatmu.

Ah, andai saja kau tahu ada sekian persen pamrihku saat itu.

Sekali, tangan ini mengusap air mata yang mengalir di-pipi-mu. Merapatkan pundak untuk sekedar kepalamu melabuh. Membuka telinga untuk menampung segala keluh kesah yang kau tumpah.

Ah, lagi-lagi kau salah!

Tadi itu ibarat sandiwara di malam perpisahan sekolah dan aku berperan sebagai antagonisnya.

Semisal hari ini lebih panjang, mungkin tak akan tertampung kisah lukamu akibatku.

Entah kenapa hari ini aku berkisah?

Basa-basikah menjelang esok hari kita semua berpuasa?

Entahlah apa itu, semoga tak ada lagi pengakuanku ini yang kembali berulang pada esok waktu.

-oOo-

Selamat berpuasa.

Mohon maaf atas segala salah dan lupa.

Blog at WordPress.com.

Up ↑