Search

Aria T. Kharisma

Not as bitter as coffee. Not as sweet as sugar.

Category

Kuliner

Tour de East Java : Touchdown Jember! [Post #2]

I don’t know much about Jember. When in elementary school, I just know if Jember is one of the districts in East Java province and located in the south, so it has a direct line to the Indian Ocean coast. Then, the infotainment tell more if it also the birthplace of some Indonesian musicians. Btw, kindly read my previous post before continue to read.

-oOo-

Continue reading “Tour de East Java : Touchdown Jember! [Post #2]”

Pepper Lunch

Finally, I eat at one restaurant that being talked by some of young people in Indonesia, Pepper Lunch. I knew it when I was in Jakarta, but now I tried for the first time in Yogyakarta. Based on its history (i read from wikipedia, hahaha), the restaurant was created in 1994 by Kunio Ichinose, he use hot metal plates, about 260 Celsius (you can touch if you want) to serve the food. On your table you will find honey brown sauce (Amakuchi) and garlic soy sauce (Karakuchi), those are two sauces can be mixed to your food.

In Yogyakarta, the restaurant was located at Plaza Ambarrukmo. First you have to order the menu first and pay it to the cashier and then the waiter will give you a table number, so seems like it’s a hard for us to pick the table position that we want. Maybe only smoking or non-smoking area.

Generally, the menu is divided into 6 category, pepper rice, premium steaks, pasta teppan, sizzling rice cury, deluxe combo, and classic japanese.

When me and my friend tried the food, we ordered Curry Rice with Double Hamburg Steak with Chicken Aglio Olio and. Yes, both are foods arrived on hot metal plates. At that time, i also asked how to use the sauce and she said, “just mix it to the rice”. Let me repeat … rice!

Actually, my Curry Rice with Double Hamburg Steak so yummy. The rice is perfectly cooked and the meats are 100% real. Not mixed with flours. I also added an egg as extra topping. My problem is I just need some time to reduce the temperature, it’s too hot to get into my mouth. I also tasted the Chicken Aglio Olio, hmmm … it just okay. The noodle, dry too i think. Maybe the caused by the plates. In average, the price is about 40K – 100K. Some menus are higher.

Will be back here and try another foods. Anyone?

Curry Rice with Double Hamburg Steak & Chicken Aglio Olio
Curry Rice with Double Hamburg Steak & Chicken Aglio Olio

 

Pempek Ulu Bundar

If I had to compile a list of Indonesian food that i love (so much), then Pempek will be placed in my top ten. I fall in love to that food since the first time i tried when I was kids. In fact, at that time I bought from street food corner in Jakarta, not the real one from Palembang.

Here, in Yogyakarta there’s one small resto that provides Pempek Palembang named Ulu Bundar. So far of what I know, Ulu Bundar has two branches. First, was in the front of Plaza Ambarrukmo and the second was near the intersection of Jalan C. Simanjuntak and Jalan Cik Ditiro, next to KFC. I usually comes to the second place because it was near to my english course building.

Types of pempek that can be found, “kapal selam” (the bigest size with egg inside), “lenjer” (small and long), “bundar” (round), and “kulit” (flat & crunchy). The texture, I can say is not too chewy and soft. Overall, the taste of pempek in Ulu Bundar is quite good and also the sour sauce is available in two, sweet and spicy. Another foods that you can order in here beside pempek are siomay and tekwan.

With affordable price, below Rp.10.000,- for each item, I’m not be surprised if this place is always crowded. For me, it’s a nice choice to have a “break” from Jogja’s original foods and suitable snack before get into class of english course.

Kapal Selam & Lenjer
Kapal Selam & Lenjer

Berdamai Dengan Kopi

Jika satu minggu yang lalu ada yang bertanya kapan terakhir kali saya minum kopi, saya akan menjawab dengan, “entahlah, itu sudah lama sekali, sampai saya sendiri tidak mampu mengingatnya”.

Kopi saat ini bukan lagi menjadi minuman pelepas dahaga. Ia menjadi pencair ketegangan antara manusia yang mungkin sedang bersitegang di ruang rapat. Menjadi saksi romantis sepasang muda-mudi yang menghabiskan sore untuk menghindari kemacetan. Jadi peneman yang sedang sendiri mencari inspirasi.

Sampai satu minggu yang lalu, saya dan kopi adalah semacam anak muda pacaran lalu putus dan saling bermusuhan. Lambung menjadi orang ketiga penyebab perpisahan kami.

-oOo-

Kata orang bijak, tidak baik selalu menatap masa lalu. Sepahit apa pun, kembalilah untuk menoleh ke depan. Apalagi kalau cuma sepahit rasa kopi pekat sekalipun. Yah, pahitnya memang tidak seberapa tapi debaran di dada yang seiring dengan raungan manja asam lambung yang menggelora, sungguh saya tak kuasa.

Bertahun mengunjungi kedai kopi, segelas cokelat panas atau di-blended selalu menjadi andalan. Terkadang saya melirik penuh iri kepada mereka yang memesan kopi sambil ikut menyesapi aromanya yang demikian menggoda.

Entah ini rencana Tuhan atau ke-teledor-an saya. Bahwa sesungguhnya ada banyak umat manusia yang memiliki nama Aria, Arya, dan segala bentuk variasinya. Merasa namanya dipanggil oleh barista Starbucks, tangan saya langsung menghampiri. Dan dihisapan pertama, saya menyadari kalau gelas yang saya genggam adalah milik Aria // Arya yang lainnya, yang saat itu menatap saya dengan lirikan tajam penuh dendam.

-oOo-

Caramel frappucino, menjadi pengakhir puasa bertahun-tahun saya tidak membasahi lidah dengan kopi. Rasanya enak dan nyaman di lambung. Persis seperti yang saya dengar di iklan Luwak White Coffee. Esoknya, pergaulan dengan kopi olahan semakin menyenangkan.

Sesuatu yang pahit bukan berarti tidak bisa berubah menjadi manis. Kalau pahit kopi saja bisa dilewati, pahitnya kehidupan semoga bisa mendewasakan diri. #MenatapSecangkirKopiHitam

caramel frappuccino
caramel frappuccino

Holycow #TKPSabang

Akhirnya, kesampaian juga mampir kesini. Akhirnya? Yup, karena beberapa kali saya membuat rencana untuk makan disini, tapi batal terlaksana. Entah itu makan siang ataupun makan malam, gak mungkin juga kan kalau sarapan.

Sebelumnya, beberapa kali mampir ke Holycow di Radio Dalam atau yang di Senopati, meski sekarang sudah pecah kongsi. Nah untuk Holycow #TKPSabang merupakan ‘kepanjangan tangan’ dari yang ada di Radio Dalam.

Lokasi Holycow #TKPSabang ada di Jl. H.Agus Salim No.16 Gd. Sere Manis lt.5. Alhamdulillah, gak terlalu jauh dari kantor. Artinya, bisa sering datang kesini demi menyantap daging empuk dan juicy.

Holycow #TKPSabang tidak terlalu luas dan terbagi dalam dua ruangan semi indoor dan outdoor dengan konsep garden rooftop. Cukup menarik kalau boleh saya bilang.

Beberapa catatan yang bisa saya tambahkan adalah jika ingin menyambangi Holycow #TKPSabang secara bergerombolan bersama teman sebanyak personil JKT48 kayanya kudu pikir² lagi, soalnya kapasitas tamu yang tidak terlalu besar.

Oh iya, satu lagi adalah soal pelayanan. Waktu saya datang sih, saya tidak ada masalah. Tapi ketika jam makan siang mencapai puncak, ada tamu yang komplain kalau pesanannya datang terlalu lama.

Well, here’s my order. Bon appetit!

holycow

Create a free website or blog at WordPress.com.

Up ↑