Search

Aria T. Kharisma

Not as bitter as coffee. Not as sweet as sugar.

Category

#Leeds101

#Leeds101: Selepas Hujan

Karena hujan bukan hanya sekedar peristiwa alam. Tentang jatuhnya tetesan air yang dikirim oleh langit untuk membasuh bumi atau tentang udara dingin yang tetiba menyergap tulang. Hujan juga lebih dari sekedar petrichor yang menyeruak bersama rerumputan.

Tak hanya air, hujan juga turut menjatuhkan kenangan. Bukan hanya yang manis yang terkadang membuat senyum tertahan tapi juga pahit yang datangkan tangis berderai. Atau setidaknya desiran jantung yang serasa menghujam.

Continue reading “#Leeds101: Selepas Hujan”

10 Songs That Makes (My) Winter 10 Times More Cold

Hanyalah cuaca sebagai satu-satunya alasan berubahnya susunan playlist di iPod, selain baru jadian atau dihempaskan pasangan karena tergoda rumput tetangga. Jika hujan seharian di Jakarta mampu membuat hati merana entah kata apa yang cocok untuk menggambarkan perasaan yang tersengat udara dingin di penghujung tahun. Gundah gulana? Nelangsa?

Continue reading “10 Songs That Makes (My) Winter 10 Times More Cold”

#Leeds101: Chris Pine

Kali pertama, saya mengenalnya sebagai anak muda yang merasa hidupnya selalu penuh dengan kesialan hingga akhirnya sebuah ciuman merubah keadaannya. Kemudian, sempat pula saya melihatnya sebagai lelaki pendiam penjelajah angkasa. Dia juga pernah terlibat “pertempuran” sengit dengan seorang rekan kerja demi memperebutkan seorang wanita berambut pirang. Terakhir, sebagai seorang mata-mata yang mendapatkan tugas ke Rusia. Continue reading “#Leeds101: Chris Pine”

#Leeds101: Stories of a Tumbler

Kembali mengingat-ingat benda apa saja yang kemarin saya bawa dalam koper menuju Leeds, yang sekiranya aura Indonesia-nya begitu terasa. Beberapa bungkus Indomie, dua pack saus sachet, dua buah kemeja batik, wayang kulit, dan sebuah selendang batik. Dua benda terakhir merupakan titipan teman di University of Birmingham sebagai souvenir untuk diberikan kepada dosen pembimbing tesisnya. Dia sempat berwanti-wanti agar saya juga jangan lupa melakukan hal yang sama, yaitu memberikan benda sebagai kenang-kenangan khas Indonesia buat siapa pun calon dosen pembimbing tesis yang namanya akan saya catat di lembaran ucapan terima kasih.

Continue reading “#Leeds101: Stories of a Tumbler”

#Leeds101: Bonfire Night

Orang-orang menengadahkan kepalanya ke arah langit. Semburat cahaya warna-warni terpapar di sana bersamaan dengan suara-suara letupan kecil. Tangan-tangan yang biasanya disembunyikan di balik saku karena menahan dingin, kini direntangkan ke atas untuk sekedar merekam keindahan percik-percik api yang bermekaran melaui telepon genggam. Dinginnya malam menjelang datangnya musim dingin tak menjadi soal, sisa-sisa hangatnya api unggun sebelum pesta kembang api dimulai, masih terasa.

Happy new year? 

No, but happy bonfire night! Continue reading “#Leeds101: Bonfire Night”

#Leeds101 : Orang Indonesia (Part 2)

Kebanyakan pintu yang tersebar di kampus sini, jika tidak terbuka secara otomatis seperti kebanyakan pintu mall yang sering kalian singgahi, adalah seperti pintu yang harus didorong atau ditarik yang akan kembali menutup dengan cepat. Semacam pintu di film koboi, hanya saja dia tidak menggantung. Sama seperti pintu pada umumnya. Nah, dikarenakan pintu yang manual tadi dengan cepat menutup, maka mau-nggak-mau (harus) ada kesadaran bagi orang yang membuka untuk menoleh ke belakangnya apakah ada orang atau tidak, untuk sekedar menahan pintu. Continue reading “#Leeds101 : Orang Indonesia (Part 2)”

#Leeds101 : Orang Indonesia (Part 1)

Pagi kemarin, seseorang tetiba memotong obrolan saya dengan salah satu pegawai kampus di gedung administrasi. Bicaranya cepat sembari diselingi napas yang tersengal-sengal. Sepertinya sedang panik. Saya terdiam sejenak sementara si pegawai kampus – lawan bicara saya – menggelengkan kepala sembari mengangkat kedua tangan dengan bahu sedikit naik. Pertanda tidak tahu.

“Sorry, I don’t speak mandarin” 

“Oh I’m sorry, I thought you were chinese”

Saya kembali melanjutkan urusan saya terkait dengan administrasi, sementara dia menuju sebuah layar monitor dekat dengan pintu masuk gedung. Sembari menunggu, saya agak sedikit menggelengkan kepala seraya tersenyum kecil mengingat kejadian tadi. Baru kali ini saya dikira memiliki keterhubungan dengan tanah kelahiran Andy Lau.

Selang sepuluh menit kemudian, urusan saya selesai dan bergegas untuk kembali ke flat untuk sekedar beristirahat. Pria yang mengira saya dari daratan Cina masih berkutat di depan monitor. Antara penasaran dan siapa tahu bisa membantu, meski bulan Ramadan sudah lewat.

“Hi, is there something I can help you with?”

“Yes, I don’t know how to change my address. Can you help me?”

“What address, email?”

“No, ummm…..” jawabnya sembari menggelengkan telunjuknya kemudian diletakan di depan bibir.

“Your flat address?”

“Yes, but no….” jari telunjuknya kembali di depan bibir.

Saya ikutan terdiam.

“I want to change my home address!” 

“Well, your home address means your flat or accomodation address, right?

“No! My home address”

Sempat terlintas di otak kalau saya berbicara dengan anak orang kaya. Kuliah jauh-jauh dan punya rumah di tanahnya Ratu Elizabeth. Saya melirik ke arah teman wanita yang sedari tadi berdiri di sampingnya. Berharap dapat pencerahan. Kalau pun tidak, setidaknya bicaralah sedikit atau sunggingkanlah senyuman. Halah!

“I want to change my home address in China”

“WHAT? YOUR-HOME-ADDRESS-IN-CHINA?” bayangkan seekor kucing yang sedang terperanjat karena disiram air, pada bagian ini. Saya kaget betulan.

Setahu saya memang ada form isian untuk mahasiswa baru tentang data alamat di negara asal masing-masing. Yang jadi pertanyaan disini adalah saya atau mungkin mahasiswa lain tidak ada yang mengutak-atik terkait data ini setelah di-submit. Jujur, saya tidak tahu letak persis menu di laman registrasi yang bakalan mengarahkan kursor yang saya gerakan ke form alamat dimaksud. Pokoknya asal klak-klik saja. Alhamdulillah, ketemu juga.

Selanjutnya saya menggeser mouse beserta keyboard ke arahnya. Jarinya kemudian berpindah dari satu tombol ke tombol berikutnya pada kolom alamat tadi. Setelah dirasa benar, sebuah tombol kecil bertanda checklist meminta untuk ditekan. Selesai.

Bayangan kasur di flat kemudian mendadak muncul. Ah, sepertinya saya harus bergegas untuk merebahkan diri di kasur tercinta. Mengingat ada janji jam dua siang untuk menyusuri kota bersama teman satu grup untuk mengambil beberapa gambar untuk tugas poster. Saya kemudian pamit kepada mereka berdua.

“Sorry, I gotta go now”

“Thanks for your help. Btw, where are you come from?

“Indonesia”

“Ah, Indonesia. How to say thank you in your language?”

“Te-ri-ma ka-sih” 

“Ah, one more question. I don’t want to repeat the mistake in the future. How to define a person who comes from Indonesia, physically?”

-oOo-

Saya seperti terlempar beberapa tahun silam. Masa dimana saya mengenakan seragam putih dan celana merah. Berada di dalam kelas sembari mendengarkan ibu guru mengajar pelajaran Pendidikan Moral Pancasila (PMP). Beliau mengajarkan tentang banyaknya perbedaan yang ada di negara ini. Suku, agama, budaya, termasuk segi fisik juga.

Kulit putih, sawo matang, kuning langsat, hingga hitam pun ada di Indonesia.

Rambut lurus, keriting, dan ikal pun juga ada di Indonesia.

Saya agak mengalami kesulitan untuk bisa menjawab pertanyaan dari dia. Duh, kenapa dia tidak bertanya tentang hal lain yang sekiranya mudah dijawab dan pasti. Misal, berapa satu ditambah satu. Nggak mungkin juga sih pertanyaan model seperti itu yang keluar dari mulutnya. Suara-suara tak jelas rimbanya seperti berlalu lalang dalam pikiran. Mendesak untuk segera disudahi pertanyaan dia dengan jawaban. Takutnya dia akan bertanya masalah personal, seperti mengungkit masalah mantan. Dheg!

“Bro, I’m a lil bit hard to describe the physical characteristics of Indonesian people in general. Black, white, curly, straight hair, can be found by you in my country. But you can see from their smile. Over friendly smile!”

Saya menyeringai lebar. Selebar senyuman Luffy, karakter One Piece.

#Leeds101 : 18 Juli 2014

Harusnya posting-an ini ditulis jauh-jauh hari. Tapi apa daya, baru sempat sekarang. Tulisan kali ini akan dimulai ketika pesawat yang saya tumpangi mendarat dengan aman dan selamat di Bandara Manchester (MAN) tanggal 18 Juli kemarin. Untuk cerita sebelum keberangkatan dari Jakarta, saya butuh berpikir banyak untuk bisa menuliskannya. Tapi yang pasti, itu adalah salah satu kejadian yang bakalan sulit bisa dilupakan.

Jadi, mohon pasang dan kencangkan sabuk keselamatan. Tegakkan sandaran kursi. Melipat meja di depan serta pastikan penutup jendela di samping Anda dalam keadaan terbuka, karena cerita akan segera dimulai!

-oOo- Continue reading “#Leeds101 : 18 Juli 2014”

Create a free website or blog at WordPress.com.

Up ↑