Search

Aria T. Kharisma

Not as bitter as coffee. Not as sweet as sugar.

Tag

jalan-jalan

Eid Mubarak with Andrea Hirata

Entahlah siapa yang sebenarnya kali pertama yang mencetuskan sebuah petuah bijaksana berikut, “yesterday is history, tomorrow is mystery, today is a gift, that is why it is called the present”. Tapi memang begitulah adanya. Bahwasanya, satu detik di depan tak ada yang tahu apa yang bakalan terjadi, satu detik yang berlalu terkadang berakhir untuk disesali, dan satu detik yang sedang berjalan adalah sebuah jembatan dengan bahagia atau sedih di kanan dan kirinya. Continue reading “Eid Mubarak with Andrea Hirata”

Chatsworth House

Karena kemana kaki melangkah, di situlah tujuan berada. Dan sebuah perjalanan sejatinya terdiri dari dua macam. Yang terencana dan yang tercetus begitu saja. Kadang, yang terencana bisa saja tak terlaksana di-karena-kan beberapa alasan yang mendadak muncul ke permukaan. Kembali lagi, manusia boleh berencana tapi Tuhan yang menentukan. Ataupun yang tercetus begitu saja malahan lantjar djaja seperti ruas jalan tol Jagorawi di tengah malam ketika libur lebaran.

-oOo-

Continue reading “Chatsworth House”

(Banyak) Jalan Menuju Edensor!

Edensor, yang kemudian dibaca menjadi ɛnzər (mirip pelafalan kata answer) adalah sebuah desa mungil yang berada di tepian wilayah bernama Derbyshire. Gaung namanya sangat gegap gempita oleh masyarakat Indonesia, karena dijadikan sebagai judul novel ketiga karya Andrea Hirata dalam rangkaian tetraloginya. Iya, Ikal menceriterakan keindahan desa ini dengan sangat bersahaja hingga apa yang tertulis di lembaran halaman adalah sama seperti apa yang mata saya tangkap. Meski demikian, Edensor tetaplah desa mungil yang oleh masyarakat sekitar pun perlu sedikit memicingkan mata dan mengerenyitkan dahi jika bertanya di mana letak desa ini.

-oOo- Continue reading “(Banyak) Jalan Menuju Edensor!”

Birmingham: All England (SF)

Teriakan In-do-ne-sia sudah saling bersahutan ketika saya masuk ke dalam Barclaycard Arena.  Continue reading “Birmingham: All England (SF)”

Tour de London: Day 2

28 Desember 2014. Keriuhan di rumah tusuk sate sudah dimulai jauh sebelum kokok ayam terdengar. Ada yang sedari pagi sekali sudah berkutat dengan pisau dan racikan bumbu di dapur, rebutan kamar mandi, ada juga yang masih berjuang sekedar untuk membuka mata dari lelap tidurnya.

Selamat pagi, London! Di hari kedua, setelah mendatangi markas Arsenal sehari yang lalu, Tour de stadiums pun dilanjutkan.

-oOo-

Klub dengan logo seekor ayam berdiri di atas bola yang keduanya didominasi oleh warna biru tua dengan siluet putih menjadi destinasi pertama. Tottenham Hostpur F.C. bermarkas di White Hart Lane stadium dan terletak di London bagian utara. Sebagai orang yang buta arah mata angin, entah bagaimana mendefinisikan sisi bagian utara, selatan, barat, dan timur dari kota ini. Thank you, google maps!

Bayangkan sosok seseorang yang sedang terperanjat dengan bola mata yang hampir keluar dan mulut menganga. Itulah ekspresi dari kami ketika mendapati stadion klub ini. Dari segi fisik bangunan, tak ada tulisan nama klub dengan ukuran besar yang biasa terpasang di bagian depan. Ditambah adanya penjagaan yang diperketat karena pada hari itu ada pertandingan antara tuan rumah melawan Manchester UnitedSayang hasil akhirnya berupa skor imbang tanpa gol, karena berharap tim setan merah meraih poin tiga. Tak banyak waktu yang dihabiskan di White Hart Lane, karena setelah sekali tawaf mengelilingi stadion tak begitu banyak sudut-sudut stadion yang bisa dijadikan objek bidikan kamera.

Tottenham Hotspur
Tottenham Hotspur F.C.

Dari stadion klub si ayam biru, perjalanan dilanjutkan ke stadion yang klub sepak bolanya sudah berdiri sejak tahun 1905, Chelsea F.C. Bermarkas di wilayah Fulham, stadion klub ini memiliki nama Stamford Bridge yang memiliki kapasitas sekitar 41.000 penonton. Tampak luar, stadion ini tidak tampak mencolok. Tersamarkan oleh bangunan sekitar. Tidak seperti di klub sebelumnya, kami menghabiskan banyak waktu di sini. Mengambil foto, keliling-keliling, mengambil foto, keliling-keliling, mengambil foto, keliling-keliling, begitu seterusnya sembari menunggu toko merchandise buka. Maklum, kami datang saat hari Minggu dan jam operasional toko buka lebih siang dari hari biasanya.

Chelsea F.C.
Wefie with Chelsea F.C. Logo as Backdrop

Stadionnya tidak begitu luas tapi beruntunglah di sini terdapat beberapa spot yang menarik buat dijadikan lokasi pemotretan. Hitung-hitung sebagai killing time menunggu toko souvenir buka dan juga seorang temannya-teman-kami yang berniat datang untuk menyusul. Please pardon us for these crazy pictures!

Entah berapa lama yang waktu yang dihabiskan di markas tim biru, yang jelas sudah melewati hampir setengah jam dari jadwal yang disusun sehari sebelumnya. Next stop, Fulham F.C.

-oOo-

Tak banyak yang saya tahu tentang klub Fulham selain lokasi stadionnya yang tidak begitu jauh dari Chelsea. Hanya sekali naik bus dan dilanjutkan berjalan kaki dan surprisingly melewati taman kota yang cantik. Iya, di ujung taman akan tampak sebuah bangunan dengan pagar teralis dan tiang-tiang lampu penerang stadion dan di situlah berdiri Stadion Craven Cottage. Tidak seperti stadion lain yang bagian luarnya bisa dimasuki oleh pengunjung, entah kenapa hal itu tidak berlaku di sini. Tertutup, semacam tempat para gangster berkumpul di film-film Hollywood. Alhasil, cuma pose di depan gerbang.

Gadis Galau Di Tepi Danau
Gadis Galau Di Tepi Danau
Fulham F.C.
Fulham F.C.

Dari seantero London, mungkin stadion ini yang memiliki lokasi paling pres-ti-si-us layaknya iklan properti miliki perusahaan yang harganya naik esok hari. Selain bersebelahan dengan taman kota, rumah-rumah penduduk di sini pun tertata dengan amat sangat rapi. Seperti Menteng tapi rumahnya lebih kecil. Sungai Thames yang termahsyur pun melintasi tepat di bagian belakang stadion. Kala itu, airnya seperti sedang surut. Kurang dramatis jika dijadikan sebagai tempat melompat para manusia-manusia galau yang berniat bunuh diri.

Nggak sanggup nulis caption di foto ini. #IfYouKnowWhatIMean
Gadis Penunggu Sungai Thames 🙂

-oOo-

Rencananya, tour de stadiums hari ini akan diakhiri di stadion kebanggaan masyarakat Inggris pada umumnya karena tempat biasa diselenggarakan pertandingan-pertandingan internasional dan juga sebagai tempat konser musik dengan skala yang besar. Yup, Wembley Stadium!

Sebelum mencapai stadion terakhir di daftar rencana yang disusun, kami melipir sejenak ke London Central Mosque untuk melaksanakan kewajiban sekaligus beristirahat, mengingat sudah jauh melwati jam makan siang tapi bekal yang kami bawa masih tertutup rapat.

The Regents Park adalah sebuah taman yang terletak tak jauh dari Masjid dan di situlah akhirnya cacing-cacing kelaparan di perut kami berhenti berteriak. Tapi tunggu sebentar, bukanlah penghuni rumah tusuk sate jika tidak suka membuat drama. Mencari kursi untuk ditempati saja harus melewati proses penimbangan bobot-bibit-dan-bebet terlebih dahulu. Ada yang ingin di sini, ada yang ingin di situ, apalagi kalau mengingat banyaknya burung, bebek, dan angsa yang berkeliaran dan meninggalkan sambal hijau ala restoran padang. Imajinasi ini sudah terlalu liar atau rasa rindu tanah air yang sudah tak tertahankan, hasil buangan binatang unggas pun di-korelasi-kan dengan kemahsyuran kuliner ranah minang.

Selepas makan siang, perut pun senang? Tentu saja, tapi tidak dengan hati dan perasaan ini. Adalah sebuah patung paddington yang terletak dekat pintu masuk taman ini yang menjadi pemicu sekaligus saksi kekesalan seorang wanita Asia, sebut saja Mawar (suara tidak disamarkan, dan wajahnya tidak dibuat kotak-kotak) terhadap kami. Menjelang perilisan film keluarga Paddington, pihak rumah produksi membuat sebelas patung beruang cokelat tersebut dalam sebelas kostum yang berbeda dan tersebar di penjuru kota London yang satu diantaranya ada di markas besar klub Chelsea.

With The Paddington Bear
With The Paddington Bear

Mawar, si wanita Asia yang dimaksud rupanya berniat juga ingin mengambil foto si beruang. Tapi, kemudian aktivitasnya sedikit terhambat karena satu per satu diantara kami juga ingin mengabadikan diri dan hingga akhirnya kami minta tolong untuk mengambilkan foto kami berlima dan terlontarlah komentar dari mulutnya yang membuat telinga ini berdarah-darah layaknya remaja putri yang mendapatkan siklus bulanan. Sungguh, senyuman dalam foto di atas adalah sunggingan bibir yang terpaksa.

-oOo-

Stadion Wembley lokasinya ternyata cukup jauh dari lokasi terakhir kami. Harus berganti berbagai moda rel ditambah bus serta dikombinasikan dengan berjalan kaki. Belum lagi drama salah jurusan. Matahari mulai menghilang ketika dari kejauhan tampak lengkungan baja stadion Wembley yang terkenal. Pilar-pilar metal yang pucuknya berhiaskan cahaya penerangan serta merta mengingatkan kepada salah satu masjid di Saudi Arabia. 

-oOo-

Biasanya, tempat terakhir adalah yang paling berkesan atau setidaknya jadi bahan obrolan di sepanjang perjalanan. Tapi entah kenapa topik pembicaraan tidak bisa jauh-jauh dari si Mawar. She will always be remembered, mostly her two red eyes!

Tour de London: Day 1

Meski tidak tertulis secara resmi dan bahwasanya Leeds adalah salah satu kota terbesar di Inggris Raya, tapi apalah artinya menginjakkan negeri ini kalau kaki ini belum menapaki kota London. Selayaknya belum ke Jakarta kalau belum ke Monas, meskipun kalau saya pribadi belum sah ke Jakarta kalau tidak masuk ke Pacific Place. Akhirnya, di minggu terakhir bulan Desember kemarin hingga dua hari setelah pergantian tahun, tubuh ini terkukung diantara besarnya kota London. Berhubung datang saat musim liburan akhir tahun, ribuan manusia memadati tiap sudut bangunan atau tempat yang masuk dalam daftar-lokasi-yang-harus-dikunjungi selama di London.

Sebelumnya, ucapan terima kasih ditujukan kepada tiga manusia penghuni rumah tusuk sate yang penuh drama dan tak pernah kehabisan cerita. Yang langkah kakinya seribu kali lebih cepat dari pengantin wanita tradisional Solo. Yang hobi menerobos lampu merah! Betha, Inggit, dan Ronaldthank you because you have been given a place for me to stay for a week! Kota yang sedemikian mahalnya, menjadi lebih bersahabat bagi kantong karena kalian. Oh iya, juga untuk operator Mega Bus cabang UK karena sudah menyediakan tiket PP Leeds – London dengan harga miring £11.

-oOo-

Matahari belum menampakkan diri tapi dua sosok manusia sudah menerjang dinginnya angin musim dingin dengan berjalan kaki menuju Leeds Bus Station. Kebetulan bus yang ditumpangi adalah yang paling awal di jadwal keberangkatan menuju London tiap harinya. Selanjutnya, cerita dilanjutkan dengan menutup mata (tidur -red) karena perjalanan akan ditempuh sekitar hampir empat jam menuju Victoria Coach Station, London jika tanpa halangan. Selama perjalanan, bus akan mampir dulu ke beberapa pemberhentian untuk mengangkut penumpang yang lain serta pergantian supir.

Deretan bukit-bukit landai yang menghiasi sepanjang jalan tol berubah menjadi gedung tua menjulang. Menandakan bus yang dinaiki sudah berjalan di atas aspal basecamp keluarga kerajaan. Sulit mendapati tulisan “Welcome to London” untuk membuat yakin saya tidak berada di kota yang salah. Hingga akhirnya bus tingkat berwarna merah tua yang menjadi icon kota ini melintas. Ah… Kate Middleton, lubang hidung kita saat ini menghirup oksigen di radius yang sama.

Victoria Coach Station tidak terlalu ramai dan hectic ketika saya sampai. Selanjutnya, memanggul tas sembari geret koper menuju Victoria Underground Station yang lokasinya hanya butuh sekitar 5 menit berjalan kaki. Berada di London artinya harus terbiasa naik turun tangga dan mempercepat langkah kaki, mengingat kereta bawah tanah adalah moda paling utama di kota ini. Salah seorang teman dari yang sudah disebutkan diatas sudah menunggu di sana, meminjamkan kartu oyster untuk diisi saldo selama tujuh hari. Oyster card adalah kartu sakti untuk bisa “menikmati”  moda transportasi di kota ini. Jatuhnya lebih murah jika bisa memprediksikan berapa lama kunjungan anda di kota ini sebagai turis. Harganya pun dibagi lagi menjadi beberapa zona, semakin luar zona maka harganya semakin mahal harganya. Penjelasan lebih detail tentang oyster card terutama untuk turis bisa dilihat di sini.

There’s nowhere else like London. Nothing at all, anywhere!

Vivienne Westwood

-oOo-

Tour de Stadiums!

Tahukah kamu kalau London adalah penyetok klub sepakbola yang bertarung di Liga Inggris terbanyak musim ini (2014-2015) dan (mungkin) musim-musim yang lalu dan musim-musim yang akan datang? Sebut saja Chelsea, Arsenal, Westham United, Tottenham Hotspur, dan Queens Park Ranger. Dan karena sedemikian banyaknya, entah kenapa tercetus wisata ini. Hampir menjelang malam di hari pertama, setelah mampir dulu di rumah tusuk sate untuk beristirahat sejenak dan makan siang, tour de stadiums dimulai. Meski hanya sempat mengunjungi satu saja, tapi sudah cukup sebagai awal, mengingat sebaran titik stadion yang cukup tersebar. Arsenal, you’re lucky number one dan itu pun karena tidak terlalu jauh dari lokasi keberangkatan.

Sejauh ini, Arsenal Football Club adalah klub sepakbola London yang paling sukses karena sudah mengantongi 13 kali juara liga. Kali pertama adalah tahun 1931 dan terakhir kalinya satu dekade yang lalu. Bukan berarti Arsenal tidak berprestasi, tahun 2014 kemarin klub ini berhasil memenangi Piala FA dan FA Community Shield. Sedangkan untuk liga champions eropa, prestasi tertinggi yang pernah dicapai adalah tampil sebagai finalis pada musim 2005-2006. Kalah 2-1 dari Barcelona. Beberapa pemain terkenal yang berasal dari klub berjuluk The Gunners adalah Thiery Henry, Dennis Bergkamp, Patrick Veiera, Sol Campbell, Nicholas Anelka. Ingin menulis Van Persie di daftar ini, tapi sepertinya dia lebih bersinar di Manchester United. Untuk pemain yang sedang memperkuat musim ini ada Mesut Özil dan Lukas Podolski dengan nomor punggung masing-masing 11 dan 9.

Berhubung terletak di pusat kota, Emirates Stadium tidak memiliki pekarangan yang luas di luarnya. Ketika sampai langsung disambut oleh bentuk stadion dengan bertuliskan nama klub. Dua buah meriam yang saling membelakangi menjadi garda paling depan. Semacam menjaga keamanan stadion ini dari serangan musuh.

Langit semakin kehilangan cahaya, maka sebelum melakukan tawaf mengelilingi stadion, incaran pertama adalah memasuki toko souvenir demi memenuhi keinginan para penggila klub ini dengan membelikan beberapa pesanan yang diminta.

Emirates Stadium - Bagian Bawah
Emirates Stadium – Bagian Bawah
Emirates Stadium – Bagian Atas [*]

Secara umum, dari luar stadion ini seperti terbagi menjadi dua bagian, lantai satu dan lantai dua. Lantai satu berupa tempat penjualan souvenir khas The Gunners sedangkan atasnya lagi seperti pintu masuk menuju ke dalam stadion. Di lantai dua, terdapat beberapa patung yang bukan hanya pemain legendaris yang pernah memberikan kontribusi kepada team, sebut saja Thierry Henry, Dennis Bergkamp, dan Tony Adams. Selain itu, juga terdapat dua patung non-pemain, Ken Friar dan Herbert Chapman.

-oOo-

Tour de Emirates Stadium usai seusai tawaf satu putaran dan langit mulai menghitam. Satu buah klub asal kota London yang harus dikunjungi selama di UK sudah berhasil dicoret dari daftar. Klub lainnya akan dilanjutkan pada hari berikutnya.

Disclaimer : foto dengan tanda [*] pada bagian keterangan / caption bukan milik pribadi melainkan berasal dari kamera teman. Efek kemerahan yang dihasilkan murni dari kamera dan juga karena ke-tidak-tahu-an pemiliknya mengapa bisa terjadi demikian. 

Scotland Trip: Glasgow [Post #2]

Sebuah mobil van berwarna putih membunyikan suara klakson berkali-kali. Bentuknya seperti ambulance yang biasa terlihat di Leeds. Mungkin sedang terburu-buru. Tapi, kemana bunyi sirinenya? Bisa jadi juga itu adalah mobil polisi. Duh, melanggar peraturan-kah mobil yang kami naiki? Lagi-lagi, kemana bunyi sirinenya?  Dear God, please do not make the incident being ticketed by the police as our “sweet experience” renting a car in the UK for the first time.

Continue reading “Scotland Trip: Glasgow [Post #2]”

Scotland Trip: Edinburgh [Post #1]

Sebelumnya mari saling menyamakan persepsi terlebih dahulu kalau ibukota negara Scotland adalah Edinburgh, bukan Glasgow! Selama ini saya berkeyakinan sebaliknya. Ah, rasanya ingin kembali lagi duduk di bangku sekolah dasar dan menyimak pelajaran IPS dengan seksama.

-oOo- Continue reading “Scotland Trip: Edinburgh [Post #1]”

One Day Trip to Newcastle upon Tyne

Ajak temanmu yang hobi mendaki gunung. Newcastle upon Tyne sangat cocok untuk mereka yang suka berjalan pada bidang yang menaik. Jika dibandingkan Leeds dan Manchester, tingkat kemiringan tanah bisa dikatakan melebihi kota yang saya sebut. Jika selama ini biasa mendaki gunung dengan hamparan padang rumput dan rimbun pepohonan, tapi kali ini deretan gedung pertokoan peninggalan jaman dahulu kala yang mengiringi pendakian. Phew!

newcastleupontyne_1

(Salah satu sudut kota Newcastle upon Tyne) 

-oOo-

Pada suatu minggu yang absurd, dimana ada jeda sekitar satu minggu untuk rehat sejenak sebelum memulai perkuliahan yang sebenarnya. Jujur saja, mengelilingi kota Leeds belum benar-benar khatam meski sudah dua bulan lebih berada disini. Kota Newcastle upon Tyne sebenarnya bukanlah pilihan pertama saya (yang kemudian bepergian bersama dua rekan lainnya) untuk yang dikunjungi pada sesi liburan kemarin. Pilihan pertama adalah kota Liverpool. Sama seperti sebelumnya, perjalanan kali ini pun adalah one-day-trip. Pulang dan pergi di hari yang sama dan waktu tempuh dari Leeds ke Newcastle upon Tyne lebih cepat maka terpaksa rencana ke Liverpool disisihkan sementara waktu.

Informasi mengenai kota ini tidak terlalu banyak saya ketahui. Beberapa hanyalah tentang klub sepakbola dan Gateshield Millenium Bridge. Sisanya? Sebuah buku National Graphic dan tentu saja the famous GOOGLE menjadi andalan untuk dijadikan referensi.

Sekitar dua-jam-tigapuluh menit diperlukan bus dari operator megabus untuk bisa sampai di Newcastle upon Tyne. Tidak seperti biasanya, perhentian bus terakhir di kota ini bukan di bus station melainkan di tepi jalan bersebelahan dengan perpustakaan kota. Dari sini, tempat pertama yang dikunjungi adalah Laing Art Gallery yang berada persis di seberang perpustakaan.  Untuk bisa masuk ke dalam museum ini hanya diperlukan sebuah senyum manis kepada resepsionis yang tepat berada setelah pintu masuk. Iya, museum ini gratis.

newcastleupontyne_2(Jendela di Laing Art Gallery)

Gateshield Millenium Bridge, yaitu sebuah jembatan untuk pejalan kaki dan pengguna sepeda yang membentang di atas sungai Tyne. Jembatan ini menjadi unik karena termasuk dalam kategori jembatan yang bisa bergerak. Seperti halnya jembatan pada jaman dahulu yang bisa membuka dan menutup setiap ada kapal yang melintas. Hanya saja desain jembatannya yang berbeda, Gateshield Millenium Bridge berbentuk setengah elips dan desainnya modern.

newcastleupontyne_3(Gateshield Millennium Bridge)

Air sungai Tyne terlihat berwarna hitam, entah karena sedimen di bawahnya atau memang kotor. Tapi tenang saja, tidak seperti sungai Ciliwung yang kerap mengeluarkan aroma tak sedap. Disini kita bisa menghirup napas sebanyak-banyaknya. Di sisi sungai ada sebuah tempat untuk beristirahat dimana  hamparan pasir pantai lengkap dengan kursi untuk berjemur. Jadi meski menghadap sungai, anggap saja sedang berada di pantai apalagi dilengkapi dengan banyak burung-burung yang berterbangan. So, don’t forget your bikini!

 newcastleupontyne_4(Deretan kursi pantai di pinggir sungai Tyne)

-oOo-

Dari kawasan Sungai Tyne, perjalanan menanjak dilakukan menuju pusat kota. Deretan bangunan tua yang entah pada jaman dulu berfungsi sebagai apa, sekarang menjelma menjadi pertokoan, restoran, dan bank. Ketika sampai diatas, ada sebuah monumen tinggi dengan sebuah patung di puncaknya, menjadi pusat berkumpul masyarakat. Seperti biasa, saya sembari memperhatikan toko sekitar yang sekiranya menjual kartu pos dan ujung-ujungnya dapat di Waterstones.

Hal lain yang juga menjadi salah satu daya pikat kota ini adalah klub sepakbola lokalnya yang turut berlaga di Barclays Premier League, Newcastle United. Klub dengan lambang kuda laut yang saling berhadapan ini memiliki markas di pusat kota. Ketika sampai disana mata ini cukup dibuat kaget karena ternyata tampak luar, ukuran stadionnya tidak terlalu besar.

newcastleupontyne_5(Newcastle United)

Semenjak dari Leeds hingga melewati pertengahan hari, langit masih saja diselimuti awan mendung. Tidak begitu pekat, tapi langit biru khas Eropa berganti warna menjadi abu-abu. Bahkan dalam perjalanan tadi, serangan kabut begitu setia menemani sepanjang duduk di perjalanan menggunakan bus. Meski sebelumnya perkiraan cuaca mengatakan kalau tidak akan hujan, tapi melihat langit dan kabut yang muncul menjadi sedikit was-was.

Meninggalkan stadion, kaki-kaki kami bergegas menuju Discovery MuseumMuseum ini cocok untuk dikunjungi oleh keluarga dan dari kalangan usia manapun. Mulai dari sejarah berdirinya kota Newcastle upon Tyne hingga alat peraga yang berhubungan dengan fisika dan hampir semuanya bisa dicoba.

newcastleupontyne_6(Terbalik? Tidak!)

Cukup lama waktu yang dihabiskan untuk menjelajahi museum ini karena ada banyak ruangan dan memiliki koleksi tematik yang berbeda-beda. Lanjut dari sini, sekitar hampir sepuluh menit perjalanan dengan berjalan kaki kami menuju Life Science Centre. Sayangnya, kunjungan terakhir ini berbuah kekecewaan. Bukan karena museum sudah tutup atau tidak buka, tapi karena harus mengeluarkan beberapa poundsterling untuk bisa masuk. Berhubung kami adalah turis yang berniat tidak mengeluarkan uang terkecuali untuk transportasi (dan kartu pos), maka kami memutuskan untuk langsung menuju tempat megabus akan mengangkut kami kembali pulang ke Leeds.

-oOo-

Masih ada sekitar satu jam lebih sebelum bus yang kami tunggu datang. Salah seorang dari kami mengusulkan untuk mampir (sejenak) ke Newcastle University dan Civic Centre yang berada tepat di depan lokasi kampus berada. Meski ada sedikit rintik hujan tak jadi masalah, toh sebentar lagi juga pulang.

newcastleupontyne_7(Newcastle University)

-oOo-

Berjalan-jalan di kota ini memang butuh stamina. Seperti yang tadi sudah disebutkan, kota ini banyak memiliki kontur jalanan yang menanjak dan menurun. Jadi sebisa mungkin menggunakan sepatu yang nyaman. Karena letaknya yang juga berdekatan dengan laut, angin yang berhembus juga terasa cukup kencang ketimbang di Leeds.

Rekapitulasi Pengeluaran :

  • Tiket bus Leeds – Newcastle upon Tyne : £11 return (sudah termasuk biaya administrasi pemesanan online)
  • Makan siang : £0 (bawa bekal)
  • Transportasi di Newcastle upon Tyne : £0 (jalan kaki)
  • Beli kartu pos : £5
  • Total pengeluaran : £16

Click or copy-paste the link to your browser for more pictures : http://goo.gl/NG5qYJ

Blog at WordPress.com.

Up ↑