Search

Aria T. Kharisma

Not as bitter as coffee. Not as sweet as sugar.

Tag

jogja

Perihal Ujian : Jangan Kau Nodai Lembar Jawaban!

Semenjak dari yang namanya ikut ujian tertulis pertama kali, yang namanya lembar jawaban selalu berwarna putih. Pun kalau ada warna-warna lainnya, tetap saja putih yang paling dominan. Dari yang namanya memilih jawaban dengan diberi tanda silang, dilingkari hitam, ataupun essay, selalu saja kertasnya berwarna putih.

Continue reading “Perihal Ujian : Jangan Kau Nodai Lembar Jawaban!”

Perihal Ujian : Ketika Mahasiswa Salah Duga.

Reaksi kebanyakan mahasiswa yang akan menghadapi ujian mata kuliah yang didalamnya banyak terdapat proses perhitungan matematika, akan belajar banting tulang, putar otak, hingga mengorbankan jam tidur untuk begadang supaya lebih lancar dalam mengerjakan soal ujian. Saya termasuk satu diantaranya. Continue reading “Perihal Ujian : Ketika Mahasiswa Salah Duga.”

#Jogja101 : Deru dan Debu

Jalanan yang Tertutup oleh Abu Vulkanik
Jalanan yang Tertutup oleh Abu Vulkanik

Dua malam berlalu sejak meletusnya Gunung Kelud. Selama dua hari itu pula, praktis saya mendekam di kamar kost. Pun kalau terpaksa keluar hanya dalam radius yang cukup dekat, sekitar 100 meter. Ya, untung saja ada sebuah tempat makan yang lokasinya berdekatan. Jarak sedekat itu pun bukan tanpa perjuangan! Memakai masker, topi, hingga jaket meskipun di-tengah-siang-bolong dengan posisi matahari baru condong sedikit dari tegak lurusnya. Panas? Tak usah ditanya!

Continue reading “#Jogja101 : Deru dan Debu”

Pepper Lunch

Finally, I eat at one restaurant that being talked by some of young people in Indonesia, Pepper Lunch. I knew it when I was in Jakarta, but now I tried for the first time in Yogyakarta. Based on its history (i read from wikipedia, hahaha), the restaurant was created in 1994 by Kunio Ichinose, he use hot metal plates, about 260 Celsius (you can touch if you want) to serve the food. On your table you will find honey brown sauce (Amakuchi) and garlic soy sauce (Karakuchi), those are two sauces can be mixed to your food.

In Yogyakarta, the restaurant was located at Plaza Ambarrukmo. First you have to order the menu first and pay it to the cashier and then the waiter will give you a table number, so seems like it’s a hard for us to pick the table position that we want. Maybe only smoking or non-smoking area.

Generally, the menu is divided into 6 category, pepper rice, premium steaks, pasta teppan, sizzling rice cury, deluxe combo, and classic japanese.

When me and my friend tried the food, we ordered Curry Rice with Double Hamburg Steak with Chicken Aglio Olio and. Yes, both are foods arrived on hot metal plates. At that time, i also asked how to use the sauce and she said, “just mix it to the rice”. Let me repeat … rice!

Actually, my Curry Rice with Double Hamburg Steak so yummy. The rice is perfectly cooked and the meats are 100% real. Not mixed with flours. I also added an egg as extra topping. My problem is I just need some time to reduce the temperature, it’s too hot to get into my mouth. I also tasted the Chicken Aglio Olio, hmmm … it just okay. The noodle, dry too i think. Maybe the caused by the plates. In average, the price is about 40K – 100K. Some menus are higher.

Will be back here and try another foods. Anyone?

Curry Rice with Double Hamburg Steak & Chicken Aglio Olio
Curry Rice with Double Hamburg Steak & Chicken Aglio Olio

 

Pempek Ulu Bundar

If I had to compile a list of Indonesian food that i love (so much), then Pempek will be placed in my top ten. I fall in love to that food since the first time i tried when I was kids. In fact, at that time I bought from street food corner in Jakarta, not the real one from Palembang.

Here, in Yogyakarta there’s one small resto that provides Pempek Palembang named Ulu Bundar. So far of what I know, Ulu Bundar has two branches. First, was in the front of Plaza Ambarrukmo and the second was near the intersection of Jalan C. Simanjuntak and Jalan Cik Ditiro, next to KFC. I usually comes to the second place because it was near to my english course building.

Types of pempek that can be found, “kapal selam” (the bigest size with egg inside), “lenjer” (small and long), “bundar” (round), and “kulit” (flat & crunchy). The texture, I can say is not too chewy and soft. Overall, the taste of pempek in Ulu Bundar is quite good and also the sour sauce is available in two, sweet and spicy. Another foods that you can order in here beside pempek are siomay and tekwan.

With affordable price, below Rp.10.000,- for each item, I’m not be surprised if this place is always crowded. For me, it’s a nice choice to have a “break” from Jogja’s original foods and suitable snack before get into class of english course.

Kapal Selam & Lenjer
Kapal Selam & Lenjer

#Jogja101 : Treat My Self :)

Just as the rainbow that appears after the rain, or the flowers are blooming after the snow melts. That’s what I felt after took the IELTS exam on last Saturday. Exam that made me and maybe some of my friends like being haunted by terror during the last few weeks. Thank God, none of us who have to get sick and hospitalized, hahaha! Actually, I’m so nervous but I was determined to do the best I can and get through the exam as well as a prince have to fight a giant dragon to save a princess from the old witch.

Now, the rainbow of that Saturday was a ticket of musical event held in Jogja, Jazztraffic. A few days ago, I had been planning to go there after the exam, but rain down fairly heavy on that day with a long enough duration. I’m so worried about that.

Continue reading “#Jogja101 : Treat My Self :)”

#Jogja101 : Perihal Kereta Api.

Banyak jalan menuju Roma Jogja. Pesawat terbang, kereta api, bus antar kota, mobil pribadi, ataupun motor pribadi. Sekian kali bolak – balik Jakarta – Jogjakarta, saya lebih sering menggunakan moda pesawat terbang dengan alasan efisiensi waktu karena sebagian besar karena alasan pekerjaan.

Tersebutlah seorang teman, sebut saja Mawar (bukan korban perbuatan kriminal), mengatakan bahwa kereta api adalah moda transportasi yang romantis untuk melakukan perjalanan. Entah, apa dasar dia bisa mengatakan seperti itu. Setahu saya dia itu wanita single-belum punya pacar-apalagi suami.

Dibilang romantis, apakah karena susunan bangku hanya untuk berdua? Well, bus antar kota pun juga bisa.

Dibilang romantis, apakah karena bisa menikmati pemandangan hamparan sawah hijau yang membentang? Well, bus antar kota juga bisa. Tapi jika pemandangan dijadikan acuan, saya lebih memilih pesawat terbang yang jendelanya menyajikan hamparan langit dengan awan yang bergumul dan sinar matahari yang menyembul.

Dibilang romantis, apakah karena kereta api menyediakan charger ponsel? Sehingga komunikasi dengan yang tersayang lancar tanpa hambatan selain naik turunnya sinyal? Well, bisa jadi. Tapi, tahu kan kalau sekarang ada yang namanya powerbank?

-oOo-

Baru ini, saya melakukan perjalanan pulang pergi dari Jogjakarta – Jakarta – Jogjakarta menggunakan moda kereta api dan keesokan hari ketika bertemu dengan Mawar, dia tersenyum sedikit misterius seakan ingin menggali alasan bagaimana kesan menggunakan moda transportasi yang dia agung-agungkan itu.

Ah, Mawar… seandainya kamu tahu kalau….

1. Perjalanan saya bisa dibilang tidak romantis karena duduk bersebelahan dengan teman yang berkelamin sama dan langsung sibuk dengan memasang earphone untuk mendengarkan lagu.

2. Perjalanan saya dilakukan di malam hari, ketika mata meminta jam biologisnya untuk terpejam. Tidak ada dongeng sebelum tidur ataupun seseorang yang membenarkan posisi selimut. Romantis? Tentu tidak!

3. Iya, baterai ponsel saya bisa terisi penuh dan itu menyenangkan karena tidak ada keharusan untuk mematikannya sehingga bisa update di social media. Tapi, selanjutnya ponsel saya hilang. Romantis? You gotta be kidding me, baby!

4. Saya juga single, so why don’t we travel together?

Tiket Kereta Api Taksaka Malam
Tiket Kereta Api Taksaka Malam

#Jogja101 : (almost) 30 Days Recap.

Hampir sebulan berada di kampung halamannya para pelajar Indonesia, Jogjakarta. Tak hanya pelajar, Jogja juga mempersilakan segala jenis profesi yang tertulis di kartu tanda pengenal. Jika sebelumnya datang ke Bumi Gudeg karena pekerjaan dan sekedar berjalan – jalan, kali ini sebagai status mahasiswa.

Berikut adalah recap kehidupan saya hampir sebulan disini. Berhubung ini bukan resep masakan jadi anda tak harus menyiapkan kertas dan pulpen untuk mencatat. Kalaupun ingin disimpan dan dibaca di kemudian hari, kan bisa di-print.

1. Looking for The Room(s).

Tepat saat Indonesa berumur yang ke 68 tahun, Kami (kebetulan, saya tidak sendiri) datang di kota ini di pagi hari. Menyusuri jalan untuk mencari apartement kost-kost-an. Tidak seperti yang kami bayangkan, ternyata mencari tempat berteduh disini butuh perjuangan.

Dari tiap deret rumah yang berjejer, kami mengetuk pintu, memencet bel, mengucapkan salam, melompati pagar, dilakukan untuk mencari apakah masih ada kamar kosong dan jawabannya selalu, “maaf, sudah penuh”. Beberapa dari pemilik kost berkata kalau kami terlambat karena rata – rata kamar kost sudah terisi penuh sejak tiga atau dua bulan sebelumnya.

OK! Kami buntu saat itu dan memutuskan untuk kembali ke hotel yang semula diniatkan hanya untuk menitip koper.

(update : saya kemudian mendapatkan kost pada hari keempat. harga kost sangat variatif dari dua ratus ribu rupiah sampai yang diatas satu juta rupiah. Ada baiknya kalau menanyakan harga, mengaku saja sebagai mahasiswa baru atau extension, katanya kalau mengaku S2 harganya dimahalin.)

2. Too Sweet To Serious.

Ingat gonjang – ganjing karena harga cabai yang meroket? Yah, saya sedih mengingatnya karena sambal menjadi langka. Entah karena Jogja adalah tempat yang menenangkan dan saking tenangnya hingga harga cabai yang tinggi tidak membuat batin menjerit.

Anggaplah berikut adalah analisa sotoy saya.

Makanan di Jogja seperti halnya beberapa wilayah Jawa dibagian tengah yang memiliki cita rasa dominan manis. Pernah satu ketika, saya memakan tumis daun pepaya dengan bertabur ikan teri dan seketika itu bayangan rasa gurih dan pedas tipis yang melekat di lidah seperti yang sering dibuat oleh ibu. Gurih? Bisa jadi! Pedas? NGGAAAKKKK…!!!!

Mungkin itulah yang menjadi alasan kenapa banyak tempat makan yang menawarkan menu sambal sebagai andalan mereka. Tapi dari beberapa yang sudah kuhinggapi, pedasnya belum sesuai dengan ekspektasi.

(update : mie ayam disini rata-rata kuahnya banjir, buat yang suka makan mie ayam dengan kuah yang sedikit-cenderung-kering, ada baiknya penjualnya diberi tahu terlebih dahulu.)

3. The Direction(s).

Tahu daerah Pondok Indah di Jakarta, kan? Perumahan dengan sejuta portal menghadang jalan. Disini ada yang serupa, Pogung Baru namanya. Rata – rata portal ditutup jam 11 malam dan baru dibuka jam 5 pagi. Sedang berkeliaran diantara jam tersebut? Pintar – pintarlah mencari jalan.

Seumpama tersesat, ada baiknya kalian tidak buta arah mata angin. Karena kalau bertanya kepada penduduk lokal, mereka lebih senang menggunakan mata angin sebagai penunjuk arah. Jarang ada yang menggunakan “kiri atau kanan”.

(update : berjalan kaki di Jogja, terutama sekitar kampus UGM, sangat dimungkinkan, tapi kalau bisa sih punya kendaraan semacam sepeda. Motor dan mobil harap disesuaikan dengan kondisi ekonomi keluarga masing – masing.)

4. Kearifan Lokal.

Bisa berbahasa Jawa disini sangatlah menguntungkan. Selain bisa lebih memikat untuk menawar barang di Malioboro atau di Pasar Beringharjo, bisa nguping pembicaraan cewek-cewek Jogja yang sedang ngobrol itu sepertinya menyenangkan. Hahaha…

(update : saya nggak bisa berbahasa jawa. Kalau cuma dengar dan bukan bahasa jawa versi halus masih bisa mengerti, selebihnya mending bawa translator aja. Enggih!)

5. Where to Hangout.

Buat yang gemar cuci mata, ada baiknya tampil seganteng dan secantik mungkin di Minggu pagi dan melipir dengan kostum olahraga (meski hanya jadi kamuflase) ke sekitar Lembah UGM. Siangnya, lanjut ke Ambarrukmo Plaza. Jangan lupa, mandi dulu.

(update : kali sekian ke Ambarrukmo Plaza saya mendapati banyak cewek Jogja yang gemar memakai sepatu boot.)

6. Mama!

Ibu Kost. Ah, berbicara tentang ibu kost ada baiknya beliau kita baik-baik-in semampu kita. Cantik atau biasa saja, seksi atau standar saja penampilannya, dia yang menyediakan tempat tinggal sementara bagi kita sebagai perantau. Baiknya dia bisa seperti ibu kandung sendiri dan marahnya dia, jangan – jangan sampai tega mengusir kita. Maka dari itu, bersikap ramahlah dan tentunya bayar biaya kost tepat pada waktunya.

(update : saya belum pernah ketemu ibu kost. #kecewa)

-oOo-

Selamat kuliah!

MSTT XXVI
MSTT XXVI

Blog at WordPress.com.

Up ↑