Search

Aria T. Kharisma

Not as bitter as coffee. Not as sweet as sugar.

Tag

travel

Chatsworth House

Karena kemana kaki melangkah, di situlah tujuan berada. Dan sebuah perjalanan sejatinya terdiri dari dua macam. Yang terencana dan yang tercetus begitu saja. Kadang, yang terencana bisa saja tak terlaksana di-karena-kan beberapa alasan yang mendadak muncul ke permukaan. Kembali lagi, manusia boleh berencana tapi Tuhan yang menentukan. Ataupun yang tercetus begitu saja malahan lantjar djaja seperti ruas jalan tol Jagorawi di tengah malam ketika libur lebaran.

-oOo-

Continue reading “Chatsworth House”

Tour de London: Day 2

28 Desember 2014. Keriuhan di rumah tusuk sate sudah dimulai jauh sebelum kokok ayam terdengar. Ada yang sedari pagi sekali sudah berkutat dengan pisau dan racikan bumbu di dapur, rebutan kamar mandi, ada juga yang masih berjuang sekedar untuk membuka mata dari lelap tidurnya.

Selamat pagi, London! Di hari kedua, setelah mendatangi markas Arsenal sehari yang lalu, Tour de stadiums pun dilanjutkan.

-oOo-

Klub dengan logo seekor ayam berdiri di atas bola yang keduanya didominasi oleh warna biru tua dengan siluet putih menjadi destinasi pertama. Tottenham Hostpur F.C. bermarkas di White Hart Lane stadium dan terletak di London bagian utara. Sebagai orang yang buta arah mata angin, entah bagaimana mendefinisikan sisi bagian utara, selatan, barat, dan timur dari kota ini. Thank you, google maps!

Bayangkan sosok seseorang yang sedang terperanjat dengan bola mata yang hampir keluar dan mulut menganga. Itulah ekspresi dari kami ketika mendapati stadion klub ini. Dari segi fisik bangunan, tak ada tulisan nama klub dengan ukuran besar yang biasa terpasang di bagian depan. Ditambah adanya penjagaan yang diperketat karena pada hari itu ada pertandingan antara tuan rumah melawan Manchester UnitedSayang hasil akhirnya berupa skor imbang tanpa gol, karena berharap tim setan merah meraih poin tiga. Tak banyak waktu yang dihabiskan di White Hart Lane, karena setelah sekali tawaf mengelilingi stadion tak begitu banyak sudut-sudut stadion yang bisa dijadikan objek bidikan kamera.

Tottenham Hotspur
Tottenham Hotspur F.C.

Dari stadion klub si ayam biru, perjalanan dilanjutkan ke stadion yang klub sepak bolanya sudah berdiri sejak tahun 1905, Chelsea F.C. Bermarkas di wilayah Fulham, stadion klub ini memiliki nama Stamford Bridge yang memiliki kapasitas sekitar 41.000 penonton. Tampak luar, stadion ini tidak tampak mencolok. Tersamarkan oleh bangunan sekitar. Tidak seperti di klub sebelumnya, kami menghabiskan banyak waktu di sini. Mengambil foto, keliling-keliling, mengambil foto, keliling-keliling, mengambil foto, keliling-keliling, begitu seterusnya sembari menunggu toko merchandise buka. Maklum, kami datang saat hari Minggu dan jam operasional toko buka lebih siang dari hari biasanya.

Chelsea F.C.
Wefie with Chelsea F.C. Logo as Backdrop

Stadionnya tidak begitu luas tapi beruntunglah di sini terdapat beberapa spot yang menarik buat dijadikan lokasi pemotretan. Hitung-hitung sebagai killing time menunggu toko souvenir buka dan juga seorang temannya-teman-kami yang berniat datang untuk menyusul. Please pardon us for these crazy pictures!

Entah berapa lama yang waktu yang dihabiskan di markas tim biru, yang jelas sudah melewati hampir setengah jam dari jadwal yang disusun sehari sebelumnya. Next stop, Fulham F.C.

-oOo-

Tak banyak yang saya tahu tentang klub Fulham selain lokasi stadionnya yang tidak begitu jauh dari Chelsea. Hanya sekali naik bus dan dilanjutkan berjalan kaki dan surprisingly melewati taman kota yang cantik. Iya, di ujung taman akan tampak sebuah bangunan dengan pagar teralis dan tiang-tiang lampu penerang stadion dan di situlah berdiri Stadion Craven Cottage. Tidak seperti stadion lain yang bagian luarnya bisa dimasuki oleh pengunjung, entah kenapa hal itu tidak berlaku di sini. Tertutup, semacam tempat para gangster berkumpul di film-film Hollywood. Alhasil, cuma pose di depan gerbang.

Gadis Galau Di Tepi Danau
Gadis Galau Di Tepi Danau
Fulham F.C.
Fulham F.C.

Dari seantero London, mungkin stadion ini yang memiliki lokasi paling pres-ti-si-us layaknya iklan properti miliki perusahaan yang harganya naik esok hari. Selain bersebelahan dengan taman kota, rumah-rumah penduduk di sini pun tertata dengan amat sangat rapi. Seperti Menteng tapi rumahnya lebih kecil. Sungai Thames yang termahsyur pun melintasi tepat di bagian belakang stadion. Kala itu, airnya seperti sedang surut. Kurang dramatis jika dijadikan sebagai tempat melompat para manusia-manusia galau yang berniat bunuh diri.

Nggak sanggup nulis caption di foto ini. #IfYouKnowWhatIMean
Gadis Penunggu Sungai Thames 🙂

-oOo-

Rencananya, tour de stadiums hari ini akan diakhiri di stadion kebanggaan masyarakat Inggris pada umumnya karena tempat biasa diselenggarakan pertandingan-pertandingan internasional dan juga sebagai tempat konser musik dengan skala yang besar. Yup, Wembley Stadium!

Sebelum mencapai stadion terakhir di daftar rencana yang disusun, kami melipir sejenak ke London Central Mosque untuk melaksanakan kewajiban sekaligus beristirahat, mengingat sudah jauh melwati jam makan siang tapi bekal yang kami bawa masih tertutup rapat.

The Regents Park adalah sebuah taman yang terletak tak jauh dari Masjid dan di situlah akhirnya cacing-cacing kelaparan di perut kami berhenti berteriak. Tapi tunggu sebentar, bukanlah penghuni rumah tusuk sate jika tidak suka membuat drama. Mencari kursi untuk ditempati saja harus melewati proses penimbangan bobot-bibit-dan-bebet terlebih dahulu. Ada yang ingin di sini, ada yang ingin di situ, apalagi kalau mengingat banyaknya burung, bebek, dan angsa yang berkeliaran dan meninggalkan sambal hijau ala restoran padang. Imajinasi ini sudah terlalu liar atau rasa rindu tanah air yang sudah tak tertahankan, hasil buangan binatang unggas pun di-korelasi-kan dengan kemahsyuran kuliner ranah minang.

Selepas makan siang, perut pun senang? Tentu saja, tapi tidak dengan hati dan perasaan ini. Adalah sebuah patung paddington yang terletak dekat pintu masuk taman ini yang menjadi pemicu sekaligus saksi kekesalan seorang wanita Asia, sebut saja Mawar (suara tidak disamarkan, dan wajahnya tidak dibuat kotak-kotak) terhadap kami. Menjelang perilisan film keluarga Paddington, pihak rumah produksi membuat sebelas patung beruang cokelat tersebut dalam sebelas kostum yang berbeda dan tersebar di penjuru kota London yang satu diantaranya ada di markas besar klub Chelsea.

With The Paddington Bear
With The Paddington Bear

Mawar, si wanita Asia yang dimaksud rupanya berniat juga ingin mengambil foto si beruang. Tapi, kemudian aktivitasnya sedikit terhambat karena satu per satu diantara kami juga ingin mengabadikan diri dan hingga akhirnya kami minta tolong untuk mengambilkan foto kami berlima dan terlontarlah komentar dari mulutnya yang membuat telinga ini berdarah-darah layaknya remaja putri yang mendapatkan siklus bulanan. Sungguh, senyuman dalam foto di atas adalah sunggingan bibir yang terpaksa.

-oOo-

Stadion Wembley lokasinya ternyata cukup jauh dari lokasi terakhir kami. Harus berganti berbagai moda rel ditambah bus serta dikombinasikan dengan berjalan kaki. Belum lagi drama salah jurusan. Matahari mulai menghilang ketika dari kejauhan tampak lengkungan baja stadion Wembley yang terkenal. Pilar-pilar metal yang pucuknya berhiaskan cahaya penerangan serta merta mengingatkan kepada salah satu masjid di Saudi Arabia. 

-oOo-

Biasanya, tempat terakhir adalah yang paling berkesan atau setidaknya jadi bahan obrolan di sepanjang perjalanan. Tapi entah kenapa topik pembicaraan tidak bisa jauh-jauh dari si Mawar. She will always be remembered, mostly her two red eyes!

Scotland Trip: Glasgow [Post #2]

Sebuah mobil van berwarna putih membunyikan suara klakson berkali-kali. Bentuknya seperti ambulance yang biasa terlihat di Leeds. Mungkin sedang terburu-buru. Tapi, kemana bunyi sirinenya? Bisa jadi juga itu adalah mobil polisi. Duh, melanggar peraturan-kah mobil yang kami naiki? Lagi-lagi, kemana bunyi sirinenya?  Dear God, please do not make the incident being ticketed by the police as our “sweet experience” renting a car in the UK for the first time.

Continue reading “Scotland Trip: Glasgow [Post #2]”

Scotland Trip: Edinburgh [Post #1]

Sebelumnya mari saling menyamakan persepsi terlebih dahulu kalau ibukota negara Scotland adalah Edinburgh, bukan Glasgow! Selama ini saya berkeyakinan sebaliknya. Ah, rasanya ingin kembali lagi duduk di bangku sekolah dasar dan menyimak pelajaran IPS dengan seksama.

-oOo- Continue reading “Scotland Trip: Edinburgh [Post #1]”

One Day Trip to Newcastle upon Tyne

Ajak temanmu yang hobi mendaki gunung. Newcastle upon Tyne sangat cocok untuk mereka yang suka berjalan pada bidang yang menaik. Jika dibandingkan Leeds dan Manchester, tingkat kemiringan tanah bisa dikatakan melebihi kota yang saya sebut. Jika selama ini biasa mendaki gunung dengan hamparan padang rumput dan rimbun pepohonan, tapi kali ini deretan gedung pertokoan peninggalan jaman dahulu kala yang mengiringi pendakian. Phew!

newcastleupontyne_1

(Salah satu sudut kota Newcastle upon Tyne) 

-oOo-

Pada suatu minggu yang absurd, dimana ada jeda sekitar satu minggu untuk rehat sejenak sebelum memulai perkuliahan yang sebenarnya. Jujur saja, mengelilingi kota Leeds belum benar-benar khatam meski sudah dua bulan lebih berada disini. Kota Newcastle upon Tyne sebenarnya bukanlah pilihan pertama saya (yang kemudian bepergian bersama dua rekan lainnya) untuk yang dikunjungi pada sesi liburan kemarin. Pilihan pertama adalah kota Liverpool. Sama seperti sebelumnya, perjalanan kali ini pun adalah one-day-trip. Pulang dan pergi di hari yang sama dan waktu tempuh dari Leeds ke Newcastle upon Tyne lebih cepat maka terpaksa rencana ke Liverpool disisihkan sementara waktu.

Informasi mengenai kota ini tidak terlalu banyak saya ketahui. Beberapa hanyalah tentang klub sepakbola dan Gateshield Millenium Bridge. Sisanya? Sebuah buku National Graphic dan tentu saja the famous GOOGLE menjadi andalan untuk dijadikan referensi.

Sekitar dua-jam-tigapuluh menit diperlukan bus dari operator megabus untuk bisa sampai di Newcastle upon Tyne. Tidak seperti biasanya, perhentian bus terakhir di kota ini bukan di bus station melainkan di tepi jalan bersebelahan dengan perpustakaan kota. Dari sini, tempat pertama yang dikunjungi adalah Laing Art Gallery yang berada persis di seberang perpustakaan.  Untuk bisa masuk ke dalam museum ini hanya diperlukan sebuah senyum manis kepada resepsionis yang tepat berada setelah pintu masuk. Iya, museum ini gratis.

newcastleupontyne_2(Jendela di Laing Art Gallery)

Gateshield Millenium Bridge, yaitu sebuah jembatan untuk pejalan kaki dan pengguna sepeda yang membentang di atas sungai Tyne. Jembatan ini menjadi unik karena termasuk dalam kategori jembatan yang bisa bergerak. Seperti halnya jembatan pada jaman dahulu yang bisa membuka dan menutup setiap ada kapal yang melintas. Hanya saja desain jembatannya yang berbeda, Gateshield Millenium Bridge berbentuk setengah elips dan desainnya modern.

newcastleupontyne_3(Gateshield Millennium Bridge)

Air sungai Tyne terlihat berwarna hitam, entah karena sedimen di bawahnya atau memang kotor. Tapi tenang saja, tidak seperti sungai Ciliwung yang kerap mengeluarkan aroma tak sedap. Disini kita bisa menghirup napas sebanyak-banyaknya. Di sisi sungai ada sebuah tempat untuk beristirahat dimana  hamparan pasir pantai lengkap dengan kursi untuk berjemur. Jadi meski menghadap sungai, anggap saja sedang berada di pantai apalagi dilengkapi dengan banyak burung-burung yang berterbangan. So, don’t forget your bikini!

 newcastleupontyne_4(Deretan kursi pantai di pinggir sungai Tyne)

-oOo-

Dari kawasan Sungai Tyne, perjalanan menanjak dilakukan menuju pusat kota. Deretan bangunan tua yang entah pada jaman dulu berfungsi sebagai apa, sekarang menjelma menjadi pertokoan, restoran, dan bank. Ketika sampai diatas, ada sebuah monumen tinggi dengan sebuah patung di puncaknya, menjadi pusat berkumpul masyarakat. Seperti biasa, saya sembari memperhatikan toko sekitar yang sekiranya menjual kartu pos dan ujung-ujungnya dapat di Waterstones.

Hal lain yang juga menjadi salah satu daya pikat kota ini adalah klub sepakbola lokalnya yang turut berlaga di Barclays Premier League, Newcastle United. Klub dengan lambang kuda laut yang saling berhadapan ini memiliki markas di pusat kota. Ketika sampai disana mata ini cukup dibuat kaget karena ternyata tampak luar, ukuran stadionnya tidak terlalu besar.

newcastleupontyne_5(Newcastle United)

Semenjak dari Leeds hingga melewati pertengahan hari, langit masih saja diselimuti awan mendung. Tidak begitu pekat, tapi langit biru khas Eropa berganti warna menjadi abu-abu. Bahkan dalam perjalanan tadi, serangan kabut begitu setia menemani sepanjang duduk di perjalanan menggunakan bus. Meski sebelumnya perkiraan cuaca mengatakan kalau tidak akan hujan, tapi melihat langit dan kabut yang muncul menjadi sedikit was-was.

Meninggalkan stadion, kaki-kaki kami bergegas menuju Discovery MuseumMuseum ini cocok untuk dikunjungi oleh keluarga dan dari kalangan usia manapun. Mulai dari sejarah berdirinya kota Newcastle upon Tyne hingga alat peraga yang berhubungan dengan fisika dan hampir semuanya bisa dicoba.

newcastleupontyne_6(Terbalik? Tidak!)

Cukup lama waktu yang dihabiskan untuk menjelajahi museum ini karena ada banyak ruangan dan memiliki koleksi tematik yang berbeda-beda. Lanjut dari sini, sekitar hampir sepuluh menit perjalanan dengan berjalan kaki kami menuju Life Science Centre. Sayangnya, kunjungan terakhir ini berbuah kekecewaan. Bukan karena museum sudah tutup atau tidak buka, tapi karena harus mengeluarkan beberapa poundsterling untuk bisa masuk. Berhubung kami adalah turis yang berniat tidak mengeluarkan uang terkecuali untuk transportasi (dan kartu pos), maka kami memutuskan untuk langsung menuju tempat megabus akan mengangkut kami kembali pulang ke Leeds.

-oOo-

Masih ada sekitar satu jam lebih sebelum bus yang kami tunggu datang. Salah seorang dari kami mengusulkan untuk mampir (sejenak) ke Newcastle University dan Civic Centre yang berada tepat di depan lokasi kampus berada. Meski ada sedikit rintik hujan tak jadi masalah, toh sebentar lagi juga pulang.

newcastleupontyne_7(Newcastle University)

-oOo-

Berjalan-jalan di kota ini memang butuh stamina. Seperti yang tadi sudah disebutkan, kota ini banyak memiliki kontur jalanan yang menanjak dan menurun. Jadi sebisa mungkin menggunakan sepatu yang nyaman. Karena letaknya yang juga berdekatan dengan laut, angin yang berhembus juga terasa cukup kencang ketimbang di Leeds.

Rekapitulasi Pengeluaran :

  • Tiket bus Leeds – Newcastle upon Tyne : £11 return (sudah termasuk biaya administrasi pemesanan online)
  • Makan siang : £0 (bawa bekal)
  • Transportasi di Newcastle upon Tyne : £0 (jalan kaki)
  • Beli kartu pos : £5
  • Total pengeluaran : £16

Click or copy-paste the link to your browser for more pictures : http://goo.gl/NG5qYJ

Bertandang Ke Old Trafford

Jika saya disuruh menuliskan daftar keinginan selama hidup di dunia, maka mengunjungi markas besar Manchester United bakalan masuk di dalamnya. Bisa menginjakkan kaki di Old Trafford bukan hanya menggenapi rasa cinta saya dengan klub berjuluk Setan Merah alias Red Devil. Meskipun jika disandingkan dengan fans yang lain, mungkin saya belum ada apanya. Apalagi jika dihadapi dengan mereka yang menganggap klub bola kesayangan sebagai agama kedua.

Tulisan ini tidak langsung bermula di depan gerbang Old Trafford. Biar lebih santai sedikit, dimulainya dari proses keberangkatan saya dari Leeds. Tapi seumpama mau di-skip, silakan geser kursor anda sedikit lebih cepat.

-oOo- Continue reading “Bertandang Ke Old Trafford”

Tour de East Java : Kawah Ijen [Post #4]

Secara geografis, Kawasan Wisata Kawah Ijen atau Cagar Alam Taman Wisata Ijen terletak di dua wilayah administratif yakni Kabupaten Banyuwangi dan Kabupaten Bondowoso. Kawah Ijen yang menjadi objek wisata utama itu sendiri terletak di puncak Gunung Ijen yang termasuk dalam ring of fire di propinsi Jawa Timur, bersama Gunung Bromo, Gunung Semeru, dan Gunung Merapi. Kawah Ijen berada di ketinggian sekitar 2.368 dpl dan merupakan kawah dengan tingkat keasaman tinggi dengan pH hampir mendekati 0. Dengan kata lain, mampu melarutkan tubuh manusia dengan cepat! (wikiindonesia.org)

-oOo- Continue reading “Tour de East Java : Kawah Ijen [Post #4]”

Tour de East Java : Taman Nasional Baluran [Post #3]

Taman Nasional Baluran (Baluran National Park) berlokasi di Kab. Situbondo, Jawa Timur. Luas total taman nasional ini adalah sekitar 25.000 Ha yang peruntukkannya terbagi menjadi beberapa zona.  Taman nasional ini bisa dibilang paket lengkap karena menyajikan hamparan savana, rimbunan hutan, mangrove, gunung, pantai, dan tentu saja eksotisme hewan yang menempatinya. Sedari awal, Taman Nasional Baluran memang direncanakan menjadi destinasi pertama selepas meninggalkan Jogja.

-oOo- Continue reading “Tour de East Java : Taman Nasional Baluran [Post #3]”

Tour de East Java : Touchdown Jember! [Post #2]

I don’t know much about Jember. When in elementary school, I just know if Jember is one of the districts in East Java province and located in the south, so it has a direct line to the Indian Ocean coast. Then, the infotainment tell more if it also the birthplace of some Indonesian musicians. Btw, kindly read my previous post before continue to read.

-oOo-

Continue reading “Tour de East Java : Touchdown Jember! [Post #2]”

Blog at WordPress.com.

Up ↑