Search

Aria T. Kharisma

Not as bitter as coffee. Not as sweet as sugar.

Tag

UK

#Leeds101: Selepas Hujan

Karena hujan bukan hanya sekedar peristiwa alam. Tentang jatuhnya tetesan air yang dikirim oleh langit untuk membasuh bumi atau tentang udara dingin yang tetiba menyergap tulang. Hujan juga lebih dari sekedar petrichor yang menyeruak bersama rerumputan.

Tak hanya air, hujan juga turut menjatuhkan kenangan. Bukan hanya yang manis yang terkadang membuat senyum tertahan tapi juga pahit yang datangkan tangis berderai. Atau setidaknya desiran jantung yang serasa menghujam.

Continue reading “#Leeds101: Selepas Hujan”

Eid Mubarak with Andrea Hirata

Entahlah siapa yang sebenarnya kali pertama yang mencetuskan sebuah petuah bijaksana berikut, “yesterday is history, tomorrow is mystery, today is a gift, that is why it is called the present”. Tapi memang begitulah adanya. Bahwasanya, satu detik di depan tak ada yang tahu apa yang bakalan terjadi, satu detik yang berlalu terkadang berakhir untuk disesali, dan satu detik yang sedang berjalan adalah sebuah jembatan dengan bahagia atau sedih di kanan dan kirinya. Continue reading “Eid Mubarak with Andrea Hirata”

(Banyak) Jalan Menuju Edensor!

Edensor, yang kemudian dibaca menjadi ɛnzər (mirip pelafalan kata answer) adalah sebuah desa mungil yang berada di tepian wilayah bernama Derbyshire. Gaung namanya sangat gegap gempita oleh masyarakat Indonesia, karena dijadikan sebagai judul novel ketiga karya Andrea Hirata dalam rangkaian tetraloginya. Iya, Ikal menceriterakan keindahan desa ini dengan sangat bersahaja hingga apa yang tertulis di lembaran halaman adalah sama seperti apa yang mata saya tangkap. Meski demikian, Edensor tetaplah desa mungil yang oleh masyarakat sekitar pun perlu sedikit memicingkan mata dan mengerenyitkan dahi jika bertanya di mana letak desa ini.

-oOo- Continue reading “(Banyak) Jalan Menuju Edensor!”

Birmingham: All England (GF)

The day before, I  was ran a little staggered and almost had crashed while going down the stairs of Barclaycard Arena. After watching the semi-final matches, I headed to the counter to buy a ticket for tomorrow, the grand-final day of the 2015 All England. One of the badminton most prestigious event.

Continue reading “Birmingham: All England (GF)”

Birmingham: All England (SF)

Teriakan In-do-ne-sia sudah saling bersahutan ketika saya masuk ke dalam Barclaycard Arena.  Continue reading “Birmingham: All England (SF)”

Malham!

Katakalah saya sebagai seorang yang terlambat jatuh cinta kepada gunung. Jadi semenjak dua tahun setelah kuliah, seumpama sekarang ada ajakan untuk mendaki semacam gak pakai pikir-pikir lagi, langsung di-iya-kan. Dulu, jika ada ajakan pergi, misal ke gunung A, pasti selalu terbentur restu ibu. Entahlah, beliau lebih rela jika saya sebagai bungsu dari tiga bersaudara, bepergian ke pantai. Padahal kan di pantai godaan mata itu sungguh maha berat, sedangkan di gunung setidaknya satu banding seribu ada pendaki yang tank-top-an, apalagi di UK dan sedang musim dingin.  Continue reading “Malham!”

Malham: A Short Description

One of the reason why I do I’m in love with Yorkshire Dales National Park more, more, and more than The Peak District National Park. It has beautiful and seriously peaceful lake in the middle of main hiking trail while row of hills covered by snow could be seen from a distance. Trust me, though the snow layers are looks thin by far, in fact it can make your feet sink up to your calf as long as you had the same height with me. Beside a group of sheep, you’ll see more animals like huge cows and big buffalos. Another fun fact of this national park is have a rock mountain named Malham Cove, one of the filming locations Harry Potter and The Deathly Hallows (Part 1). It’s like a puzzle rocks on the ground. Meanwhile, the national park also has a waterfall site but too bad me and my friends missed it as we have another path which is the longest route and took us up to the highest hill. – at Yorkshire Dales National Park View on Path

Scotland Trip: Edinburgh [Post #1]

Sebelumnya mari saling menyamakan persepsi terlebih dahulu kalau ibukota negara Scotland adalah Edinburgh, bukan Glasgow! Selama ini saya berkeyakinan sebaliknya. Ah, rasanya ingin kembali lagi duduk di bangku sekolah dasar dan menyimak pelajaran IPS dengan seksama.

-oOo- Continue reading “Scotland Trip: Edinburgh [Post #1]”

One Day Trip to Newcastle upon Tyne

Ajak temanmu yang hobi mendaki gunung. Newcastle upon Tyne sangat cocok untuk mereka yang suka berjalan pada bidang yang menaik. Jika dibandingkan Leeds dan Manchester, tingkat kemiringan tanah bisa dikatakan melebihi kota yang saya sebut. Jika selama ini biasa mendaki gunung dengan hamparan padang rumput dan rimbun pepohonan, tapi kali ini deretan gedung pertokoan peninggalan jaman dahulu kala yang mengiringi pendakian. Phew!

newcastleupontyne_1

(Salah satu sudut kota Newcastle upon Tyne) 

-oOo-

Pada suatu minggu yang absurd, dimana ada jeda sekitar satu minggu untuk rehat sejenak sebelum memulai perkuliahan yang sebenarnya. Jujur saja, mengelilingi kota Leeds belum benar-benar khatam meski sudah dua bulan lebih berada disini. Kota Newcastle upon Tyne sebenarnya bukanlah pilihan pertama saya (yang kemudian bepergian bersama dua rekan lainnya) untuk yang dikunjungi pada sesi liburan kemarin. Pilihan pertama adalah kota Liverpool. Sama seperti sebelumnya, perjalanan kali ini pun adalah one-day-trip. Pulang dan pergi di hari yang sama dan waktu tempuh dari Leeds ke Newcastle upon Tyne lebih cepat maka terpaksa rencana ke Liverpool disisihkan sementara waktu.

Informasi mengenai kota ini tidak terlalu banyak saya ketahui. Beberapa hanyalah tentang klub sepakbola dan Gateshield Millenium Bridge. Sisanya? Sebuah buku National Graphic dan tentu saja the famous GOOGLE menjadi andalan untuk dijadikan referensi.

Sekitar dua-jam-tigapuluh menit diperlukan bus dari operator megabus untuk bisa sampai di Newcastle upon Tyne. Tidak seperti biasanya, perhentian bus terakhir di kota ini bukan di bus station melainkan di tepi jalan bersebelahan dengan perpustakaan kota. Dari sini, tempat pertama yang dikunjungi adalah Laing Art Gallery yang berada persis di seberang perpustakaan.  Untuk bisa masuk ke dalam museum ini hanya diperlukan sebuah senyum manis kepada resepsionis yang tepat berada setelah pintu masuk. Iya, museum ini gratis.

newcastleupontyne_2(Jendela di Laing Art Gallery)

Gateshield Millenium Bridge, yaitu sebuah jembatan untuk pejalan kaki dan pengguna sepeda yang membentang di atas sungai Tyne. Jembatan ini menjadi unik karena termasuk dalam kategori jembatan yang bisa bergerak. Seperti halnya jembatan pada jaman dahulu yang bisa membuka dan menutup setiap ada kapal yang melintas. Hanya saja desain jembatannya yang berbeda, Gateshield Millenium Bridge berbentuk setengah elips dan desainnya modern.

newcastleupontyne_3(Gateshield Millennium Bridge)

Air sungai Tyne terlihat berwarna hitam, entah karena sedimen di bawahnya atau memang kotor. Tapi tenang saja, tidak seperti sungai Ciliwung yang kerap mengeluarkan aroma tak sedap. Disini kita bisa menghirup napas sebanyak-banyaknya. Di sisi sungai ada sebuah tempat untuk beristirahat dimana  hamparan pasir pantai lengkap dengan kursi untuk berjemur. Jadi meski menghadap sungai, anggap saja sedang berada di pantai apalagi dilengkapi dengan banyak burung-burung yang berterbangan. So, don’t forget your bikini!

 newcastleupontyne_4(Deretan kursi pantai di pinggir sungai Tyne)

-oOo-

Dari kawasan Sungai Tyne, perjalanan menanjak dilakukan menuju pusat kota. Deretan bangunan tua yang entah pada jaman dulu berfungsi sebagai apa, sekarang menjelma menjadi pertokoan, restoran, dan bank. Ketika sampai diatas, ada sebuah monumen tinggi dengan sebuah patung di puncaknya, menjadi pusat berkumpul masyarakat. Seperti biasa, saya sembari memperhatikan toko sekitar yang sekiranya menjual kartu pos dan ujung-ujungnya dapat di Waterstones.

Hal lain yang juga menjadi salah satu daya pikat kota ini adalah klub sepakbola lokalnya yang turut berlaga di Barclays Premier League, Newcastle United. Klub dengan lambang kuda laut yang saling berhadapan ini memiliki markas di pusat kota. Ketika sampai disana mata ini cukup dibuat kaget karena ternyata tampak luar, ukuran stadionnya tidak terlalu besar.

newcastleupontyne_5(Newcastle United)

Semenjak dari Leeds hingga melewati pertengahan hari, langit masih saja diselimuti awan mendung. Tidak begitu pekat, tapi langit biru khas Eropa berganti warna menjadi abu-abu. Bahkan dalam perjalanan tadi, serangan kabut begitu setia menemani sepanjang duduk di perjalanan menggunakan bus. Meski sebelumnya perkiraan cuaca mengatakan kalau tidak akan hujan, tapi melihat langit dan kabut yang muncul menjadi sedikit was-was.

Meninggalkan stadion, kaki-kaki kami bergegas menuju Discovery MuseumMuseum ini cocok untuk dikunjungi oleh keluarga dan dari kalangan usia manapun. Mulai dari sejarah berdirinya kota Newcastle upon Tyne hingga alat peraga yang berhubungan dengan fisika dan hampir semuanya bisa dicoba.

newcastleupontyne_6(Terbalik? Tidak!)

Cukup lama waktu yang dihabiskan untuk menjelajahi museum ini karena ada banyak ruangan dan memiliki koleksi tematik yang berbeda-beda. Lanjut dari sini, sekitar hampir sepuluh menit perjalanan dengan berjalan kaki kami menuju Life Science Centre. Sayangnya, kunjungan terakhir ini berbuah kekecewaan. Bukan karena museum sudah tutup atau tidak buka, tapi karena harus mengeluarkan beberapa poundsterling untuk bisa masuk. Berhubung kami adalah turis yang berniat tidak mengeluarkan uang terkecuali untuk transportasi (dan kartu pos), maka kami memutuskan untuk langsung menuju tempat megabus akan mengangkut kami kembali pulang ke Leeds.

-oOo-

Masih ada sekitar satu jam lebih sebelum bus yang kami tunggu datang. Salah seorang dari kami mengusulkan untuk mampir (sejenak) ke Newcastle University dan Civic Centre yang berada tepat di depan lokasi kampus berada. Meski ada sedikit rintik hujan tak jadi masalah, toh sebentar lagi juga pulang.

newcastleupontyne_7(Newcastle University)

-oOo-

Berjalan-jalan di kota ini memang butuh stamina. Seperti yang tadi sudah disebutkan, kota ini banyak memiliki kontur jalanan yang menanjak dan menurun. Jadi sebisa mungkin menggunakan sepatu yang nyaman. Karena letaknya yang juga berdekatan dengan laut, angin yang berhembus juga terasa cukup kencang ketimbang di Leeds.

Rekapitulasi Pengeluaran :

  • Tiket bus Leeds – Newcastle upon Tyne : £11 return (sudah termasuk biaya administrasi pemesanan online)
  • Makan siang : £0 (bawa bekal)
  • Transportasi di Newcastle upon Tyne : £0 (jalan kaki)
  • Beli kartu pos : £5
  • Total pengeluaran : £16

Click or copy-paste the link to your browser for more pictures : http://goo.gl/NG5qYJ

Blog at WordPress.com.

Up ↑